Senin, 02 Januari 2017

Petaka Buruk Telolet

Di suatu hari yang cerah, tepatnya pada pukul 06.15, seorang siswa SMA N 2 Magelang yang bernama Dito Andrea bergegas berangkat sekolah dengan teman-temannya. Kemudian pada saat di jalan, mereka berbincang-bincang mengenai berita terkini di Indonesia. Sesampainya di kelas, teman-teman Dito membicarakan hal yang sama, yaitu bunyi klakson pada bis.
“Gimana Cin? Kemaren udah ke pinggir jalan nyari Telolet?” tanya Erna.
“Belum Na, kemarin sore hujan deras sekali.” balas Cindy.

“Kring!!! kring!!!”
Bunyi pergantian jam pelajaran telah terdengar. Pelajaran selanjutnya di kelas XII IPS 1 adalah Bahasa Indonesia. Pelajaran yang sangat Dito sukai karena guru Bahasa Indonesia, Bapak Sartono Jaya yang sangat sabar mengajar murid-muridnya, walaupun kelas Dito sangat ramai sekali.
“Anak-anak apakah kalian tahu tentang berita terkini di Indonesia yang telah merambat sampai ke dunia Internasional?” tanya beliau.
“Saya tahu pak, bunyi klakson pada bis.” kata Dito.
“Om Telolet Om, Pak.” ujar Reno.
“Hahaha.” serentak seluruh siswa tertawa.
“Ya, benar sekali. Kemarin Bapak pergi ke Jogja, di perjalanan Bapak menemukan banyak remaja-remaja bahkan anak-anak yang menunggu di pinggir jalan untuk mencari Telolet dengan menggunakan alat bantu kertas.” ujar beliau.
“Saya kemarin juga sudah mencari, tetapi alhasil nihil, Pak.” sambung Albi.
“Bapak harap kalian jangan mengikuti trend saat ini.”
 “Baik, Pak.” kata Dito.

Setelah bel pulang berbunyi, seperti biasa Dito pulang dengan teman-temannya yaitu Albi dan Reno. Di perjalanan mereka merencanakan bahwa setelah sampai rumah mereka akan bermain untuk mecari Telolet. Lalu divideo dan dapat diunggah ke instagram. Tujuan mereka adalah supaya mereka bisa terkenal dengan membuat video telolet tersebut. Akhirnya mereka pun setuju, dan yang membuat tulisan dikertas karton adalah Reno.
Sesampainya di rumah, Dito bergegas mengambil air wudhu untuk menunaikan ibadah sholat ashar, setelah itu ia berganti pakaian karena akan mecari telolet dengan teman-temannya.
“Kak, mau kemana kok sudah rapi?” tanya Vinola.
“Mau mencari Telolet, dik dengan teman-teman” jawab Dito.
“Apa itu telolet, Kak?” tanya Vinola.
“Bunyi klakson bis dik, yang sedang menjadi trend saat ini. “ jawab Dito.
“Ibu kemana dik, kok dari tadi pagi tidak kelihatan?” sambung Dito.
“Ibu ke Pasar Rejowinangun, Kak.” jawab Vinola.
“Sampaikan ke Ibu ya, kalau kakak sedang mencari Telolet dengan Reno dan Albi.” pinta Dito.
“Siaaaaaaaaaaaaaap, Kak!!!” dengan suara yang lantang.
Kemudian Dito tak lupa mengambil handphone nya di kamar. Setelah itu ia pergi ke gang dekat sekolah Dito. Jarak sekolah Dito dengan rumahnya tidak terlalu jauh, sehingga ia lebih suka berjalan dengan teman-temannya. Setelah sampai di gang dekat sekolah, ia melihat Albi dan Reno yang sedang mempersiapkan kertas karton yang bertuliskan “Om telolet Om”.
“Gimana, sudah siap?” tanya Dito.
“Sudah, To.” jawab Albi dan Reno bersamaan.
“Ayo… Aku sudah tidak sabar lagi.” ungkap Dito.

Akhirnya mereka berdiri di pinggir jalan raya gang dekat sekolah. Mereka berteriak-teriak ketika ada bus yang lewat. Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya bus pariwisata membunyikan Teloletnya. Mereka sangat gembira sekali mendengar bunyi klakson bis tersebut. Tak terasa Dito pun sudah berada di tengah jalan. Reno dan Albi pun teriak-teriak memanggil Dito. Akhirnya Dito tersadar bahwa ia sudah berada di tengah jalan raya. Ketika Dito ingin kembali bersama teman-temannya, terdapat mobil yang melaju dengan kecepatan yang sangat cepat, tangan Dito pun akhirnya terkena spion mobil, dan handphone Dito pun jatuh terlindas ban mobil. Dito dan teman-temannya terkejut. Ia sangat khawatir sekali. Setelah itu ia pulang kerumah masing-masing bersama teman-temannya.
Setelah dari pasar, Ibu pulang kerumah membawa oleh-oleh untuk Dito dan Vinola.
“Vin, Kak Dito kemana, sudah sejak pagi Ibu tidak melihat  wajahnya?” tanya Ibu.
“Kak Dito pergi bersama teman-temannya ke pinggir jalan raya. Katanya sih mau Telolet, Bu.” jawab Vinoa.
“Oalah, To, Telolet ki panganan opo. Lha, mbok baca shalawat di rumah bisa untuk sangu akhirat. Atau belajar bareng teman-teman yang bisa lebih bermanfaat dari pada mencari Telolet.” ujar Ibu.
Setelah Dito sampai di depan rumah, ia pun sangat takut kalau Ibu nya tahu apabila handphone Dito rusak karena terlindas ban mobil. Akhirnya ia pun memberanikan diri untuk masuk dalam rumah.
“Assalamualaikum.” ujar Dito.
“Waalaikumsalam.” jawab Ibu dan Vinola bersamaan.
“Dari mana saja , nak? tanya Ibu.
“Habis mencari Telolet, Bu.” jawab Dito
“Telolet itu apa?” tanya Ibu.
“Bunyi klakson pada bis, Bu. Yang menjadi trend saat ini, sudah sampai ke dunia internasional.” jawab Dito.
“Nah, itu apa yang kau sembunyikan di balik bajumu itu, nak?” tanya Ibu.
“Emhh.. ini… ini.. ini tidak apa-apa, Bu.”
“Tidak usah membohogi Ibu, nak.”
“Ini.. Ini handphone Dito rusak bu, karena terlindas ban mobil.” jawab Dito sembari menunjukkan handphone nya.
“Astagaa Dito!! Apa gunanya mencari Telolet kalau handphone kamu menjadi korbannya?” tanya Ibu.
“Maafkan Dito, ya Bu.” kata Dito.
“Kamu sudah kelas 3, nak. Seharusnya dapat berfikir mana kegiatan yang bermanfaat dan mana yang tidak bermanfaat. Lebih baik belajar bersama dengan teman-teman, dari pada mencari Telolet yang belum tentu berguna.”
“Baiklah, Bu. Dito tidak akan mengulanginya lagi. Ibu tidak usah membelikan handphone untuk Dito lagi, ini kesalahan Dito, Bu.”
“Bailah Dito, Ibu maafkan kamu, nak.”

Setelah kejadian Telolet tersebut. Akhirnya setiap hari, Dito menabung uang sakunya, ia setiap hari membawa bekal makanan dari Ibu nya. Setelah 6 bulan berlalu, akhirnya Dito bisa membeli handphone dan laptop menggunakan hasil tabungannya sendiri.

1 komentar:

  1. OK, terima kasih. Penulisan tanda baca dalam dialog perlu konsisten. Demikian juga dengan kata sapaan. Pembetulan di bawah ini bisa Anda bandingan dengan naskah asli Anda!

    Nah, itu apa yang kau sembunyikan di balik bajumu itu, nak?” tanya Ibu.
    “Emhh.. ini… ini.. ini tidak apa-apa, Bu.”
    “Tidak usah membohogi ibu, nak.”
    “Ini.. Ini handphone Dito rusak Bu, karena terlindas ban mobil, ” jawab Dito sembari menunjukkan handphone nya.
    “Astagaa Dito!! Apa gunanya mencari Telolet kalau handphone kamu menjadi korbannya?” tanya Ibu.
    “Maafkan Dito, ya Bu, ” kata Dito.
    “Kamu sudah kelas 3, Nak. Seharusnya dapat berpikir mana kegiatan yang bermanfaat dan mana yang tidak bermanfaat. Lebih baik belajar bersama dengan teman-teman, daripada mencari Telolet yang belum tentu berguna.”
    “Baiklah, Bu. Dito tidak akan mengulanginya lagi. Ibu tidak usah membelikan handphone untuk Dito lagi, ini kesalahan Dito, Bu.”
    “Baiklah Dito, ibu maafkan kamu, Nak.”

    BalasHapus