Petaka
Buruk Telolet
Di
suatu hari yang cerah, tepatnya pada pukul 06.15, seorang siswa SMA N 2
Magelang yang bernama Dito Andrea bergegas berangkat sekolah dengan
teman-temannya. Kemudian pada saat di jalan, mereka berbincang-bincang mengenai
berita terkini di Indonesia. Sesampainya di kelas, teman-teman Dito
membicarakan hal yang sama, yaitu bunyi klakson pada bis.
“Gimana Cin? Kemaren
udah ke pinggir jalan nyari Telolet?” tanya Erna.
“Belum Na, kemarin sore
hujan deras sekali.” balas Cindy.
“Kring!!! kring!!!”
Bunyi
pergantian jam pelajaran telah terdengar. Pelajaran selanjutnya di kelas XII
IPS 1 adalah Bahasa Indonesia. Pelajaran yang sangat Dito sukai karena guru
Bahasa Indonesia, Bapak Sartono Jaya yang sangat sabar mengajar murid-muridnya,
walaupun kelas Dito sangat ramai sekali.
“Anak-anak apakah
kalian tahu tentang berita terkini di Indonesia yang telah merambat sampai ke
dunia Internasional?” tanya beliau.
“Saya tahu pak, bunyi
klakson pada bis.” kata Dito.
“Om Telolet Om, Pak.”
ujar Reno.
“Hahaha.” serentak
seluruh siswa tertawa.
“Ya, benar sekali.
Kemarin Bapak pergi ke Jogja, di perjalanan Bapak menemukan banyak
remaja-remaja bahkan anak-anak yang menunggu di pinggir jalan untuk mencari Telolet
dengan menggunakan alat bantu kertas.” ujar beliau.
“Saya kemarin juga
sudah mencari, tetapi alhasil nihil, Pak.” sambung Albi.
“Bapak harap kalian
jangan mengikuti trend saat ini.”
“Baik, Pak.” kata Dito.
Setelah
bel pulang berbunyi, seperti biasa Dito pulang dengan teman-temannya yaitu Albi
dan Reno. Di perjalanan mereka merencanakan bahwa setelah sampai rumah mereka
akan bermain untuk mecari Telolet. Lalu divideo dan dapat diunggah ke instagram. Tujuan mereka adalah supaya
mereka bisa terkenal dengan membuat video telolet tersebut. Akhirnya mereka pun
setuju, dan yang membuat tulisan dikertas karton adalah Reno.
Sesampainya di rumah,
Dito bergegas mengambil air wudhu untuk menunaikan ibadah sholat ashar, setelah
itu ia berganti pakaian karena akan mecari telolet dengan teman-temannya.
“Kak, mau kemana kok
sudah rapi?” tanya Vinola.
“Mau mencari Telolet,
dik dengan teman-teman” jawab Dito.
“Apa itu telolet, Kak?”
tanya Vinola.
“Bunyi klakson bis dik,
yang sedang menjadi trend saat ini. “
jawab Dito.
“Ibu kemana dik, kok
dari tadi pagi tidak kelihatan?” sambung Dito.
“Ibu ke Pasar
Rejowinangun, Kak.” jawab Vinola.
“Sampaikan ke Ibu ya,
kalau kakak sedang mencari Telolet dengan Reno dan Albi.” pinta Dito.
“Siaaaaaaaaaaaaaap,
Kak!!!” dengan suara yang lantang.
Kemudian Dito tak lupa
mengambil handphone nya di kamar.
Setelah itu ia pergi ke gang dekat sekolah Dito. Jarak sekolah Dito dengan
rumahnya tidak terlalu jauh, sehingga ia lebih suka berjalan dengan
teman-temannya. Setelah sampai di gang dekat sekolah, ia melihat Albi dan Reno
yang sedang mempersiapkan kertas karton yang bertuliskan “Om telolet Om”.
“Gimana, sudah siap?”
tanya Dito.
“Sudah, To.” jawab Albi
dan Reno bersamaan.
“Ayo… Aku sudah tidak
sabar lagi.” ungkap Dito.
Akhirnya
mereka berdiri di pinggir jalan raya gang dekat sekolah. Mereka berteriak-teriak
ketika ada bus yang lewat. Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya bus
pariwisata membunyikan Teloletnya. Mereka sangat gembira sekali mendengar bunyi
klakson bis tersebut. Tak terasa Dito pun sudah berada di tengah jalan. Reno
dan Albi pun teriak-teriak memanggil Dito. Akhirnya Dito tersadar bahwa ia
sudah berada di tengah jalan raya. Ketika Dito ingin kembali bersama
teman-temannya, terdapat mobil yang melaju dengan kecepatan yang sangat cepat,
tangan Dito pun akhirnya terkena spion
mobil, dan handphone Dito pun jatuh
terlindas ban mobil. Dito dan teman-temannya terkejut. Ia sangat khawatir
sekali. Setelah itu ia pulang kerumah masing-masing bersama teman-temannya.
Setelah dari pasar, Ibu
pulang kerumah membawa oleh-oleh untuk Dito dan Vinola.
“Vin, Kak Dito kemana,
sudah sejak pagi Ibu tidak melihat
wajahnya?” tanya Ibu.
“Kak Dito pergi bersama
teman-temannya ke pinggir jalan raya. Katanya sih mau Telolet, Bu.” jawab
Vinoa.
“Oalah, To, Telolet ki
panganan opo. Lha, mbok baca shalawat di rumah bisa untuk sangu akhirat. Atau
belajar bareng teman-teman yang bisa lebih bermanfaat dari pada mencari
Telolet.” ujar Ibu.
Setelah Dito sampai di
depan rumah, ia pun sangat takut kalau Ibu nya tahu apabila handphone Dito rusak karena terlindas
ban mobil. Akhirnya ia pun memberanikan diri untuk masuk dalam rumah.
“Assalamualaikum.” ujar
Dito.
“Waalaikumsalam.” jawab
Ibu dan Vinola bersamaan.
“Dari mana saja , nak?
tanya Ibu.
“Habis mencari Telolet,
Bu.” jawab Dito
“Telolet itu apa?”
tanya Ibu.
“Bunyi klakson pada
bis, Bu. Yang menjadi trend saat ini,
sudah sampai ke dunia internasional.” jawab Dito.
“Nah, itu apa yang kau
sembunyikan di balik bajumu itu, nak?” tanya Ibu.
“Emhh.. ini… ini.. ini
tidak apa-apa, Bu.”
“Tidak usah membohogi
Ibu, nak.”
“Ini.. Ini handphone Dito rusak bu, karena terlindas
ban mobil.” jawab Dito sembari menunjukkan handphone
nya.
“Astagaa Dito!! Apa
gunanya mencari Telolet kalau handphone
kamu menjadi korbannya?” tanya Ibu.
“Maafkan Dito, ya Bu.”
kata Dito.
“Kamu sudah kelas 3,
nak. Seharusnya dapat berfikir mana kegiatan yang bermanfaat dan mana yang
tidak bermanfaat. Lebih baik belajar bersama dengan teman-teman, dari pada
mencari Telolet yang belum tentu berguna.”
“Baiklah, Bu. Dito
tidak akan mengulanginya lagi. Ibu tidak usah membelikan handphone untuk Dito lagi, ini kesalahan Dito, Bu.”
“Bailah Dito, Ibu
maafkan kamu, nak.”
Setelah kejadian Telolet
tersebut. Akhirnya setiap hari, Dito menabung uang sakunya, ia setiap hari
membawa bekal makanan dari Ibu nya. Setelah 6 bulan berlalu, akhirnya Dito bisa
membeli handphone dan laptop menggunakan hasil tabungannya
sendiri.
OK, terima kasih. Penulisan tanda baca dalam dialog perlu konsisten. Demikian juga dengan kata sapaan. Pembetulan di bawah ini bisa Anda bandingan dengan naskah asli Anda!
BalasHapusNah, itu apa yang kau sembunyikan di balik bajumu itu, nak?” tanya Ibu.
“Emhh.. ini… ini.. ini tidak apa-apa, Bu.”
“Tidak usah membohogi ibu, nak.”
“Ini.. Ini handphone Dito rusak Bu, karena terlindas ban mobil, ” jawab Dito sembari menunjukkan handphone nya.
“Astagaa Dito!! Apa gunanya mencari Telolet kalau handphone kamu menjadi korbannya?” tanya Ibu.
“Maafkan Dito, ya Bu, ” kata Dito.
“Kamu sudah kelas 3, Nak. Seharusnya dapat berpikir mana kegiatan yang bermanfaat dan mana yang tidak bermanfaat. Lebih baik belajar bersama dengan teman-teman, daripada mencari Telolet yang belum tentu berguna.”
“Baiklah, Bu. Dito tidak akan mengulanginya lagi. Ibu tidak usah membelikan handphone untuk Dito lagi, ini kesalahan Dito, Bu.”
“Baiklah Dito, ibu maafkan kamu, Nak.”