Sebelum mengetahui apa itu analisa rasio keuangan, kita pelajari terlebih dahulu pengertian dari rasio keuangan. Apa itu rasio? Menurut Harvarindo (2010:12), rasio adalah satu angka yang dibandingkan dengan angka lain sebagai suatu hubungan. Menurut kamus besar rasio adalah perbandingan antara dua hal yang saling berhubungan, biasanya dalam bentuk angka, rasio, umumnya digunakan untuk mengukur peringkat atau posisi keuangan suatu perusahaan dan analisis untuk pemberian kredit. (glosarium). Sedangkan keuangan adalah suatu hal yang berkaitan dengan akuntansi seperti pengelolaan dan alaporan keuangan. Jadi rasio keuangan adalah indeks yang menghubungkan dua angka akuntansi dan diperoleh dengan membagi satu angka dengan angka lainnya (James c Van Horne dikutip dikutip dari Kasmir, 2008:104).
Setelah mengetahui pengertian dari rasio keuangan, analisa adalah suatu proses pengamatan secara detail untuk memecahkan atau menguraikan komponen-komponen pembentuknya untuk dikaji lebih lanjut. Maka analisa rasio keuangan adalah suatu proses pengamatan indeks yang berkaitan dengan akuntansi pada laporan keuangan ( neraca, laporan laba rugi, dsn laporan arus kas) yang berguna untuk menilai kinerja keuangan pada suatu perusahaan dan sebagai pedoman dalam pengambilan keputusan bisnis.
Pentingnya analisa rasio keuangan yaitu memberikan gambaran sejarah dari perusahaan dan penilaian terhadap perusahaan tersebut, apakah keadan perusahaan baik atau malah sebaliknya. Dari hasil analisis tersebut seorang manajemen mendapatkan informasi tentang kekuatan dan juga kelemahan dari perusahaan sehingga dari informasi tersebut manajer bisa memahami apa yang apa yang perlu di lakukan perusahaan dan keputusan-keputusan yang tepat untuk masa yang akan datang. Analisis rasio keuangan tidak hanya penting untuk perusahaan, namun juga bisa digunakan untuk pedoman bagi para investor dan kreditor untuk mengetahui apakah perusahaan tersebut baik atau tidakya kondisi keuangan perusahaan dari periode ke periode.
Rasio keuangan sendiri dikelompokkan menjadi 5 (lima) yaitu rasio likuiditas ( rasio lancar, rasio cepat, rasio solvabilitas) rasio perputaran persediaan (rasio aktivitas, rasio utang terhadap aktiva, rasio utang terhadap ekuitas), rasio profitabilitas dan rentabilitas, ( margin laba kotor, margin laba operasi, margin laba bersih) dan yang kelima ada ratio investasi.
Minggu, 24 November 2019
Ayo Kenali Jenis-Jenis Saham
Oleh : Bening Shanaya A.P.
Di era globalisasi seperti saat ini pasti sudah banyak yang
mengerti apa itu saham. Dengan keuntungan yang didapat pasti banyak yang
tertarik dengan bermain saham. Saham sendiri adalah bukti yang menunjukkan kepemilikan seseorang dalam
suatu perusahaan atau perseroan terbatas. Jika anda menanamkan saham disuatu
perusahaan, maka anda bisa juga disebut sebagai salah satu pemilik perusahaan
tersebut, tergantung seberapa besar porsi kepemilikan anda. Saham sendiri
berbentuk sertifikat yang dikeluarkan oleh perusahaan menyatakan bahwa pemilik
sertifikat yang namanya tercantum adalah pemilik perusahaan sesuai dengan porsi
berapa persen saham yang ditanamkan dalam perusahaan tersebut. Perusahaan yang
besar dan sehat akan banyak dicari karena memiliki nilai jual yang tinggi dan
akan menghasilkan laba yang besar. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang jenis-jenis
saham, berikut adalah jenis-jenis saham yang dibagi menjadi tiga berdasarkan
karakternya masing-masing
A.
Jenis Saham dari Segi Kemampuan dalam Hak Tagih atau Klaim
·
Saham Biasa (Common Stock)
Jenis
tersebut merupakan yang paling banyak digunakan dalam pasar modal karena para
pemilik saham akan menerima dividen jika suatu perusahaan mendapatkan keuntungan
atau laba, namun bisa juga tidak mendapatkan dividen jika perusahaan dalam
kondisi buruk. Saham jenis ini mempunyai karakteristik yaitu bisa melakukan klaim
kepemilikan pada semua penghasilan dan aktiva yang dimiliki perusahaan. Namun
demikian, pemilik atau pemegang saham jenis ini hanya memiliki kewajiban yang
terbatas. Keuntungannya adalah jika terjadi resiko terburuk misalnya perusahaan
bangkrut, kerugian maksimum yang ditanggung oleh pemegang saham adalah sebesar
investasi pada saham tersebut.
·
Saham Preferen (Preferred Stocks)
Untuk jenis
ini, stockholder akan mendapatkan hak istimewa dalam
pembayaran dividen dibandingkan dengan beberapa jenis saham lainnya. Jika suatu
saat perusahaan dilikuidasi, maka pemegang saham jenis ini akan terlebih dahulu
memperoleh hak atas sisa aset perusahaan dibandingkan para pemegang saham
biasa.Selain itu haknya juga akan lebih tinggi, maksudnya yaitu besarnya
dividen yang diterima biasanya telah ditetapkan sebelumnya. Jika sedang dalam kondisi merugi dan tidak
mampu membayar dividen, maka perusahaan akan mencatatnya sebagai hutang yang
harus dibayar.
B. Jenis Saham
dari Segi Cara Peralihannya
·
Saham
Atas Unjuk (Bearer Stocks)
Secara fisik, pada saham tersebut tidak tertulis nama pemiliknya.
Hal ini bertujuan agar mudah dipindahtangankan dari satu investor satu ke
investor lainnya. Banyak investor yang memiliki saham ini dengan tujuan memang
untuk diperjualbelikan. Investor tidak perlu khawatir karena secara hukum,
siapa yang memegang saham tersebut, maka dialah diakui sebagai pemiliknya dan
berhak untuk ikut hadir dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).
·
Saham
Atas Nama (Registered Stocks)
Kebalikan dari saham atas
unjuk, pada saham atas nama pemegang saham tertulis jelas namanya di dalam
kertas saham dan cara peralihannya pun juga harus melalui prosedur tertentu.
C. Jenis Saham
dari Segi Kinerja Perdagangan
·
Blue
chips stocks
Merupakan jenis
saham yang perusahaannya memiliki reputasi cukup tinggi serta menjadi pemimpin
dalam sebuah industri dengan pendapatan yang stabil serta konsisten membayar
deviden.
·
IncomeStocks
Jenis saham ini juga mempunyai keunggulan dalam hal kemampuan
membayar dividen lebih tinggi dari rata-rata dividen yang dibayarkan pada tahun
sebelumnya. Kemampuan menciptakan pendapatan yang lebih tinggi dan secara
teratur membagikan dividen tunai menjadi daya tarik tersediri bagi investor.
·
GrowthStocks
(Well-Known)
Mirip dengan blue chip, saham jenis ini memiliki pertumbuhan pendapatan yang tinggi, sebagai petinggi di industri sejenis dan dikenal sebagai perusahaan yang mempunyai reputasi tinggi.
(Well-Known)
Mirip dengan blue chip, saham jenis ini memiliki pertumbuhan pendapatan yang tinggi, sebagai petinggi di industri sejenis dan dikenal sebagai perusahaan yang mempunyai reputasi tinggi.
·
SpeculativeStocks
Investor dengan profil resiko high risk, bisa mencoba jenis saham ini. Saham ini berpotensi menghasilkan laba tinggi di masa depan, namun tidak bisa secara konsisten memperoleh penghasilan dari tahun ke tahun.
Investor dengan profil resiko high risk, bisa mencoba jenis saham ini. Saham ini berpotensi menghasilkan laba tinggi di masa depan, namun tidak bisa secara konsisten memperoleh penghasilan dari tahun ke tahun.
·
CounterCyclicalStocks
Jenis saham ini paling stabil saat kondisi ekonomi bergejolak karena tidak terpengaruh oleh kondisi ekonomi makro maupun situasi bisnis secara umum. Ilustrasinya jika terjadi resesi ekonomi, maka harga saham ini tetap tinggi, di mana emitennya mampu memberikan dividen yang tinggi. Hal ini bisa terjadi sebagai akibat dari kemampuan emiten dalam memperoleh penghasilan yang tinggi pada masa resesi.
Jenis saham ini paling stabil saat kondisi ekonomi bergejolak karena tidak terpengaruh oleh kondisi ekonomi makro maupun situasi bisnis secara umum. Ilustrasinya jika terjadi resesi ekonomi, maka harga saham ini tetap tinggi, di mana emitennya mampu memberikan dividen yang tinggi. Hal ini bisa terjadi sebagai akibat dari kemampuan emiten dalam memperoleh penghasilan yang tinggi pada masa resesi.
PENTINGNYA MENGANALISIS KEBANGKRUTAN SUATU PERUSAHAAN
oleh: Dina Lorenza Rambe
Dalam dunia bisnis analisis kebangkrutan suatu perusahaan merupakan hal
yang penting, khususnya bagi para stakeholder internal maupun eksternal. Dengan memprediksi kebangkrutan, kita tentunya dapat mengetahui kelangsungan hidup suatu perusahaan dan dapat mengantisipasi kemungkinan adanya kebangkrutan. Terjadinya kebangkrutan dalam suatu perusahaan tidak hanya disebabkan oleh ketidakmampuan suatu perusahaan dalam melunasi kewajibannya,
tetapi juga terjadinya persaingan bisnis
yang semakin ketat dan adanya perubahan dalam keinginan konsumen. Dengan menganalisis kebangkrutan suatu perusahaan, tentunya hal tersebut bermanfaat bagi para
investor, karena dapat melihat adanya kemungkinan bangkrut atau tidaknya suatu perusahaan
yang menjual surat berharga berupa saham mau pun obligasi, sehingga dapat memudahkan para investor untuk mengantisipasi adanya kerugian dalam berinvestasi.
Untuk memprediksi kebangkrutan suatu perusahaan, langkah yang
dilakukan adalah dengan menganalisis laporan keuangan
yang dilaporkan perusahaan setiap periode. Laporan keuangan perusahaan biasanya tercatat pada annual report masing-masing perusahaan, yang memuat tentang informasi
yang bermanfaat untuk mengetahui kondisi keuangan perusahaan dan sebagai alat untuk memprediksi kondisi perusahaan
di masa yang akan datang. Salah satu metode yang sering digunakan untuk menganalisis sehat tidaknya kondisi keuangan suatu perusahaan adalah dengan metode Z-score. Metode tersebut menggunakan berbagai rasio keuangan
yang dapat mengidentifikasi kemungkinan kesulitan keuangan masa depan.
Kesulitan keuangan tersebut akan tergambar pada rasio-rasio keuangan
yang telah diperhitungkan. Jika suatu perusahaan memiliki nilai Z-score diatas 2,99 maka akan dinyatakan sebagai perusahaan
non bangkrut. Sedangkan perusahaan dengan nilai Z-score dibawah 1,81 maka dinyatakan bahwa perusahaan tersebut mengalami kebangkrutan. Selain itu,
jika ada suatu perusahaan yang
memiliki nilai di antaranya dianggap sebagai perusahaan
yang diwaspadai dengan kategori abu-abu.
Alternatif pemecahan masalah jika suatu perusahaan telah mengalami tanda-tanda kebangkrutan atau kesulitan dalam masalah keuangan adalah dengan cara melakukan reorganisasi atau likuidasi.
Jika suatu perusahaan memiliki atau menunjukkan prospek
yang baik, maka melakukan reorganisasi adalah keputusan
yang tepat, karena nilai perusahaan jika diteruskan nilainya lebih besar dari pada nilai perusahaan dilikuidasi. Sebaliknya jika nilai suatu perusahaan jika diteruskan lebih kecil dari nilai perusahaan dilikuidasi,
maka langkah yang tepat untuk diambil adalah dengan melakukan likuidasi atau pembubaran perusahaan dengan menjual seluruh
asset perusahaan sehingga dapat melunasi kewajiban
perusahaan.
Langganan:
Postingan (Atom)